TOTAL DIKUNJUNGI

Mantan Presiden Indonesia yang Tak Pernah Tercatat

Tau gak sih ada mantan Presiden Indonesia yang tak pernah tercatat sebagai presiden Indonesia. Ya mereka bukan presiden yang kala itu Indonesia bukan bernama Indonesia. Indonesia bernama lain. Negara Indonesia pernah mengalami pergantian sistem pemerintahan, dari kesatuan berubah menjadi serikat dan berubah kembali menjadi kesatuan hingga kini.


Demikian juga dengan pemimpinnya atau presidennya. Selama 65 tahun berdiri sebagai Negara, telah terjadi berkali-kali pergantian pemimpin di Indonesia. Mulai dari ir. Soekarno hingga Joko Widodo sekarang.

Sebagai penjabat presiden, umumnya orang Indonesia hanya mengenal Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarno Putrie dan Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal masih ada dua lagi presiden Indonesia dan jarang sekali

Kota Batavia Nama Pemberian Dari Serdadu Mabuk


Pada bulan Mei 1619 Gubernur Jendral J.P. Coen berhasil menaklukkan Jayakarta dan berambisi untuk membangun sebuah kota baru. Sebuah nama telah disiapkan yaitu De Hoorn, yang berasal dari nama kota kelahirannya di Noord Holland. Tapi dalam suatu pesta, seorang serdadu VOC yang tengah mabuk meneriakkan kata-kata: Batavia… Batavia… Dan nama Batavia itu adalah sebutan untuk Bataviren van Oranye, yaitu suatu suku bangsa di Jerman yang pada tahun 100 SM menempati Pulau Bataviren.
Maka, entah bagaimana jalannya kemudian nama Batavia menjadi lebih popular mengalahkan nama yang telah disiapkan oleh JP Coen. Apalagi kemudian ternyata para pemilik saham VOC menyetujui nama Batavia tersebut. Dan resmilah Batavia menjadi pengganti dari nama Jayakarta (1619-1942), sebelum kemudian akhirnya berubah menjadi Djakarta (1942-1972) dan selanjutnya dengan ejaan baru menjadi Jakarta hingga sekarang.

Kisah Kopassus yang Pernah Menampar Soeharto

Kolonel (purn) Alex Kawilarang sempat diusulkan untuk menjadi pahlawan nasional tahun ini. Tapi agaknya belum juga diluluskan pemerintah. Alex Kawilarang memiliki peran penting dalam penyusunan organisasi TNI di awal kemerdekaan. Termasuk membangun pasukan elite yang kelak dikenal sebagai Kopassus TNI AD.


Di zaman Belanda, Alex mengikuti pendidikan perwira Koninklijk Militaire Academie (KMA) di Bandung. Sebenarnya KMA Bandung merupakan sekolah perwira darurat karena saat itu Belanda telah dikuasai Jerman dalam perang dunia II. KMA Breda di Belanda pun tutup.

Kisah Komodor Udara Ignatius Dewanto Melerai Pertempuran Dua Pasukan TNI AD

AU di Tengah AD
Dua perwira AU melerai pertempuran dua pasukan AD di "rumahnya" Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma.

PAGI, 2 Oktober 1965. Pilot Komodor Udara Ignatius Dewanto dan kopilot Kapten Udara Willy Kundimang mendaratkan Cessna L-180 tanpa pemandu di Pangkalan Angkatan Udara (PAU) Halim Perdanakusuma. Setelah memarkir pesawat, keduanya turun.

Tiga anggota Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) –kini Komando pasukan Khusus atau Kopassus– menghampiri sembari menodongkan senjata AK-47. Begitu tahu mereka berhadapan dengan seorang perwira tinggi, mereka segera memberi hormat. Setelah menjelaskan tujuannya, mereka minta izin melucuti senjata –kecuali Dewanto.

Kisah heroik Jenderal Jasin maju hentikan perang Brimob vs TNI

Jenderal Moehammad Jasin. ©buku Gramedia Pustaka Utama/Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang
Pertengkaran antara TNI dan Brimob rupanya sudah sejak lama, dan bukan cuma di Batam saja. Di tahun
1950an kisah serupa sudah terjadi di tempat lain.
Saat itu Brimob masih bernama Mobiele Brigade. Di Maluku, ada dua kompi yang bermarkas di Ambon dan Tantui, yang berjarak 8 km dari Ambon. Lokasinya asrama Tantui berada di perbukitan. Sementara komandannya bernama Lesnusa. Satu kompi berkekuatan sekitar 100 orang.

Dua kompi itu kebanyakan pemuda Maluku. Mereka direkrut kepolisian untuk menghindarkan para pemuda Ambon dari ajakan Republik Maluku Selatan (RMS) untuk memberontak.

Perjalanan Sejarah Komjen Pol M Yasin Sang Pahlawan

Komisaris Jenderal Polisi Dr H. Mohammad Yasin
tribratanewsntb.com – Tanggal 21 Agustus 1945, atau delapan hari sebelum Pemerintah RI
mengangkat R.S. Soekanto sebagai Kepala Djawatan Kepolisian Negara, anggota Tokobetsu Keisatsu Tai atau Polisi Istimewa bentukan Jepang, memproklamasikan dibubarkannya Polisi Istimewa, dan kemudian dibentuk Polisi Indonesia.
Dengan proklamasi, maka lepaslah keterikatan Polisi Istimewa dengan Jepang. Juga, mengubah status polisi dari Polisi Kolonial menjadi Polisi Negara Merdeka.
Proklamasi itu sekaligus juga merupakan antisipasi terhadap kemungkinan Jepang melucuti senjata Polisi Istimewa, seperti yang mereka lakukan terhadap tentara Pembela Tanah Air pada saat itu.
Moehammad Jasin, lahir di Bau-Bau, Buton,

Perjalanan Sejarah Komjen Pol M Yasin Sang Pahlawan

Komisaris Jenderal Polisi Dr H. Mohammad Yasin
tribratanewsntb.com – Tanggal 21 Agustus 1945, atau delapan hari sebelum Pemerintah RI
mengangkat R.S. Soekanto sebagai Kepala Djawatan Kepolisian Negara, anggota Tokobetsu Keisatsu Tai atau Polisi Istimewa bentukan Jepang, memproklamasikan dibubarkannya Polisi Istimewa, dan kemudian dibentuk Polisi Indonesia.
Dengan proklamasi, maka lepaslah keterikatan Polisi Istimewa dengan Jepang. Juga, mengubah status polisi dari Polisi Kolonial menjadi Polisi Negara Merdeka.
Proklamasi itu sekaligus juga merupakan antisipasi terhadap kemungkinan Jepang melucuti senjata Polisi Istimewa, seperti yang mereka lakukan terhadap tentara Pembela Tanah Air pada saat itu.
Moehammad Jasin, lahir di Bau-Bau, Buton,